GURU DAN PERBUATAN MENGAJAR
Dalam proses kemajuan pendidikan peran guru sangatlah
penting. Guru merupakan salah satu faktor utama bagi terciptanya generasi
penerus bangsa yang berkualitas, tidak hanya sisi intelektualitas saja
melainkan juga dari tatacara berperilaku dalam masyarakat. Oleh karena itu
tugas yang diemban guru tidaklah mudah. Guru yang baik harus mengerti dan paham
tentang hakekat sejati seorang guru. Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang
guru dan dosen. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar,membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta
didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur formal pendidikan dasar dan
pendidikan menengah.pengertian guru diperluas menjadi pendidik yang dibutuhkan
secara dikotomis tentang pendidikan.
Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung
jawab moral yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan siswa sangat bergantung
pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Zamroni (2000:74)
mengatakan “guru adalah kreator proses belajar mengajar”. Ia adalah orang yang
akan mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik
minatnya, mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batas-batas
norma-norma yang ditegakkan secara konsisten. Dengan dmikian dapat dikemukakan
bahwa orientasi proses pengajaran dalam konteks belajar mengajar diarahkan
untuk pengembangan aktivitas siswa dalam belajar. Gambaran aktivitas itu
tercermin dari adanya usaha yang dilakukan guru dalam memungkinkan siswa aktif
belajar. Oleh karena itu, mengajar tidak hanya sekedar meyampaikan informasi
yang sudah jd dengan menuntut jawaban verbal melainkan suatu upaya integratif
kearah pencapaian tujuan pendidikan.
Nasution (1982:8) mengemukakan kegiatan mengajar
diartikan sebagai segenap aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam
mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya
dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Dengan demikian proses dan
keberhasilan belajar siswa gurut ditentukan oleh peran yang dibawakan oleh guru
selama interaksi proses belajar mengajar berlangsung.
Usman (1994:3) mengemukakan mengajar pada prinsipnya adalah
membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian
bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan alam hubungannya
dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses
belajar. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat
berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa da uga hendaknya mampu
memamfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas yang
menunjang terhadap kegiatan belajar mengajar.
Biggs (dalam Adrian, 2004) seorang pakar psikologi
membagi konsep mengajar menjadi tiga macan penegertian, yaitu: 1) pengertian
kuatitatif, mengajar diartikan sebagai the transmission of knowledge, yakni penularan
pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang
studinya dan menyampaikan dan menyampaikan kepada siswa dengan sebaik-baiknya.
Masalah berhasil atau tidaknya siswa bukan tanggug jawab pengajar. 2)
pengertian institusional, mengajar berarti, the efficient orchestration of
teaching skills, yakni penataan sgala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam
ha ini guru dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai macam teknik
mengajar terhadap siswa yang memiliki berbagai macam tipe belajar serta
berbagai bakat, kemampuan dan kebutuhannya. 3) pengertian kualitatif, mengajar
diartikan sebagai the facilitation of learning, yaitu upaya membantu memudahkan
kegiatan belajar siswa mencari makna dan pemahamannya sendiri. Burton (dalam
sagala, 2003:61) mengemukakan mengajar adalah upaya memberikan stimulus,
bimbingan pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi roses belajar.
Berdasarkan
definisi-definisi mengajar dari para pakar diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa mengajar adalah aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam menyampaikan
pengetahuan kepada siswa sehingga terjadi proses belajar. Aktivitas kompleks
yang dimaksud antara lain: 1) mengatur kegiatan belajar siswa, 2) memamfaatkan
linkungan, baik yang ada di dalam kelas maupun yang ada di luar kelas, dan 3)
memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa.
Kegiatan guru dalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu
mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung
menggiatkan siswa mencapai tujuan seperti menelaah kebutuhan siswa, menyusun
rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan
pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan
mengajar.
Namun pada kenyataannya sebagian besar guru tidak
melakukan tugasnya seperti semestinya. Misalnya ketika menyampaikan materi guru
tersebuat hanya sekedar menyampaikan selanjutnya apakah materi itu dapat
dimengerti atau tidaknya oleh siswa hal itu sepertinya bukan merupakan tugas
dan tanggung jawabnya sebagai seorang guru. Seharusnya, guru tersebut melakukan
apa yang sebenarnya menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Hal ini sebenarnya
tergantung pada kesadaran guru itu sendiri agar dapat mengubah
karakteristik/cara mengajarnya sehingga apa yang seharusnya menjadi tugas dan
tanggung jawabnya dapat terlaksana sebagaiman mestinya.
Model-model
pembelajaran kimia
Model-model pembelajaran kimia yang dapat digunakan
ketika pembelajaran berlangsung adalah:
1.
Model
pembelajaran konstruktivis
Model ini dapat digunakan untuk mengajarkan konsep
pembentukan reaksi kimia, ikatan kimia, sistem periodik reaksi pembatas dll.
2.
Model
STM (Sains-Teknologi-Masyarakat)
Model ini adalah dengan menggabungkan konsep kimia dengan
realitas yang ada di lingkungan masyarakat, seperti pentingnya mengatasi
pencemaran lingkungan.
3.
Model
pembelajaran Kooperatif
Model ini siswa dapat melakukan diiskusi untuk menemukan
indikator alam, setelah melakukan percobaan secara berkelompok dengan berbagai
bahan alam.
4.
Model
pembelajaran inquiri
5.
Model
pembelajaran berbasis masalah (problem base learning)
6.
Model
pembelajaran langsung, dengan beberapa langkah:
- Temukan
- Observasi
- Hasil
- Laporan
- Display
- Model
pembelajaran berbasis teknologi informasi
Cara
mengajar kimia yang menyenangkan
Pembelajaran kimia dianggap sebagian besar siswa menjadi
pelajaran yang sulit dipahami dan dimengerti. Permasalahan pembelajaran kimia
yang sampai saat ini belum mendapat pemecahan secara tuntas adalah adanya
anggapan pada diri siswa bahwa pelajaran ini sulit dipahami dan dimengerti. Ini
menyebabkan pelajaran kimia tidak disukai, bahkan sebagian siswa bersikap
antipati dan menganggapnya sebagai momok.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Hal itu bisa terjadi karena: pertama, metode
pembelajaran kimia yang diterapkan guru brsifat monoton dan kurang variasi. Ini
menjadikan belajar kimia kurang bermakna dan tidak menarik bagi siswa. Kedua,
sebagian besar siswa terbawa opini yang terbentuk ditengah-tengah masyarakat
bahwa pelajaran kimia itu sulit. Hal itu semakin memperkuat anggapan siswa
terhadap pelajaran kimia sebagai cabang ilmu yang sulit dipelajari dan
dipahami. Maka untuk mengatasi permasalahan ini haruslah dibuat sebuah metode
pembelajaran kimia yang menyenangkan, mengasikkan, dan mencerdaskan.
Sistem pengelolaan kelas
Sekolah adalah tempat belajar bagi siswa dan tugas guru
adalah sebagian besar terjadi dalam kelas adalah membelajarkan siswa dengan
menyediakan kondisi belajar yang optimal. Kondisi belajar yang optimal dapat
dicapai jika guru mampu menatur siswa dan sarana pengajaran serta
mengendalikannya dalam situasi yang menyenangkan untuk mencapai tujuan
pelajaran. Dalam kelas segala aspek pembelajaran bertemu dan berproses, guru
dengan segala kemampuannya, murid dengan segala latar belakang dan potensinya,
kurikulum dengan segala komponennya, metode dengan segala pendekatannya, media
dengan segala perangkatnya, materi serta sumber pelajaran dengan segala pokok
bahasannya bertemu dan berinteraksi di dalam kelas. Oleh karena itu, selayaknya
kelas dimanajemeni secara baik dan profesional.
Terlihat jelas bahwa pengelolaan kelas yang efektif merupakan persyaratan
mutlak bagi terciptanya proses belajar mengajar yang efektif pul. Maka dari itu
pentingnya pengelolaan kelas guna menciptakan suasana kelas yang kondusif guna
menunjang proses pembelajaran yang optimal menuntut kemampuan guru untuk
mengetahui, memahami, memilih, dan menerapkan pendekatan yang dinilai efektif
menciptakan suasana kelas yang kondusif.
Namun, dalam menghadapi
tugasnya guru sering mengalami permasalahan dengan kegiatan-kegiatan di dalam
kelas. Sering terjadi guru menangani masalah yang bersifat pengajaran dengan
pemecahan yang bersifat pengelolaan dan begitu pula sebaliknya. Maka untuk
menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
- mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang
bersifat perorangan maupun kelompok.
- memahami pendekatan mana yang cocok atau tidak cocok untuk jenis masalah
tertentu.
- memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan
masalah yang dimaksud.
Komentar
Posting Komentar